KH. Jalaluddin Rakhmat
Salman dan Kecintaannya pada Imam Ali
Saya ingin menyebutkan beberapa hadis dan Salman Al-Farisi dalam Pembelaannya terhadap ImamAli. Kata Salman, “Kami pernah berbai’at kepada Rasulullah Saw untuk tetap setia kepada kaum Muslimin dan mengambil Ali sebagai Imam dan berwali kepadanya.”
Di antara khotbah Salman di masjid, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Wahai orang Muhajirin dan Anshar, inginkah kalian aku tunjukkan yang apabila kalian berpegang teguh padanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya?’ Tentu ya Rasulullah Nabi bersabda, “Inilah ‘Ali saudaraku, pembantuku, pewarisku dan khalifahku, imam kalian sesudahku Maka cintailah dia karena kecintaanku kepadanya, muliakanlah dia karena aku memuliakannya Karena sesungguhnya Jibril menyampaikan kepadaku untuk menyampaikan kepada kamu apa yang aku sampaikan.
Pernah suatu hari, Sulaim bin Qais duduk bersama Salman Al-Farisyi. Di sampingnya ada Abu Dzar dan Miqdad. Lalu datanglah seorang lelaki dan Kufah, duduk meminta nasihat kepada mereka. Lalu Salman memberikan nasihat kepadanya “Hendaklah kalian berpegang kepada kitab Allah. Dan berpegang teguhlah kepada Ali bin Abi Thalib. Aku bersaksi bahwa kami mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Sesungguhnya Ali berputar bersama kebenaran ke manapun kebenaran itu berputar dan Ali adalah Ash-Shidiq dan Al-Faruq yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
Itulah sebagian hadis yang disampaikan Salman Al-Farisi. Tetapi, kebanyakan telinga waktu itu tidak mau mendengar. Karena itu juga, pada pemenintahan Umar Bin Khatthab, Salman tidak diperkenankan tinggal di Madinah. Tokoh ini dijauhkan dari Madinah. Umar mengangkatnya menjadi gubernur di Mada’in. Ketika menjadi Gubernur itu karena kesederhanaannya ada rakyat yang menganggapnya sebagai tukang kuli, lalu menyuruhnya memikul karung goni di atas punggungnya Dan Salman Al-Farisi dengan setia memikul karung goni itu. Sampaj di tengah jalan orang menegur lelaki itu karena telah “mengkulikan” gubernur atau “menggubenurkan” kuli. Dengan penuh ketakutan, orang itu meminta maaf kepadanya, “Aku tidak mengenal Anda. Letakkanlah barang-barang itu, mudah-mudahan Allah memaafkan saya. “Tapi Salman menolaknya hingga mereka sampaj di rumah orang itu. Yang menarik bagi saya adalah jawaban Salman kepadanya Kata Salman, “Ketika aku memikul barang-barang kamu itu, aku punya niat, aku tidak akan meletakkan barang ini sebelum sampai ke rumah kamu.”
Karena kesederhanaan pakaiannya, orang yang baru pulang dari pasar itu bukan saja menganggap Salman sebagai kuli tapi juga mencemoohkan kesederhanaan dan kemiskinannya Tapi, Salman tidak membalas cemoohannya Ia malah jadi kuli dan memikul barang yang diserahkan kepadanya. Dalam hal itu Salman sebagai Gubernur menjalankan apa yang sekarang oleh orang lnggris disebut sebagai public servant: Pegawai Negeri adalah Pelayan Masyarakat.
Lebih jauh, kepada orang itu Salman berkata, “Aku ini sudah berniat bahwa aku akan membawa barang kamu sampai ke rumah kamu apa pun yang terjadi. Tapi aku nasihatkan kepada kamu, janganlah mencemooh orang lain setelah ini hanya karena penampilan. Dengan memikul barang kamu, itu aku memperoleh tiga hal. Pertama, aku meruntuhkan kesombongan diriku, kedua, aku membantu orang Islam untuk memenuhi hajatnya.
Memenuhi kepenluan kaum Muslimin, itu sama pahalanya. Kata lbn Abbas dengan duapuluh tahun itikaf di masjid Nabi. Memenuhi keperluan kaum Muslimin itu sama pahalanya— dalam salah satu hadis yang diriwayatkan Rasulullah Saw—seperti melakukan seribu kali haji. Dan pada pagi hari itu, Salman meruntuhkan kesombongannya dan membantu orang lain.
“Yang ketiga,” lanjut Salman, “.. .kamu sudah mencaci maki aku, sekiranya kamu tadi tidak sempat mencaci aku pastilah ada korban lain yang kamu caci maki. Dengan menyerahkan aku sebagai korban cacian kamu, satu orang hamba lain terselamatkan dan makian kamu.”
Ketika Salman menjadi gubernur di Mada’in, ia berkata “Khalifah Umar memaksa aku untuk kepemimpinan padahal aku tidak menginginkannya.” Ketika dia menjadi Gubernur, bukan saja ia tidak mempunyai rumah dinas bahkan tidak memiliki rumah dia sendiri. Dalam kitab Al-Isti’db, “Dia tidakpunya rumah, dia biasanya berlindung di bawah tembok atau pepohonan.” Kalau saya berbicara di hadapan para gelandangan, Salman mi mestinya menjadi idola para gelandangan. Kitab di atas bercerita lebih jauh “Lalu seorang lelaki dating menemuinya, ‘Apakah mau saya buatkan kamu rumah untuk jadi tempat tinggal kamu?’ Aku tidak punya keperluan untuk rumah. Tidak henti-hentinya si lelaki itu meminta untuk membikinkan rumah baginya. Akhirnya orang itu berkata, ‘Aku tahu rumah yang cocok dengan kamu’. Salman menjawab: Coba sebutkan rumah yang cocok den ganku itu! Ia berkata: Aku akan bangun sebuah rumah yang apabila engkau berdiri kepala kamu membentur langit-langit. Kalau kamu julurkan kakimu, kakimu menyentuh tembok’. Salman berkata: Benar itulah rumah yang saya sukai! Akhirnya dibikinkanlah rumah seperti itu.”
Suatu hari datang seseorang masuk ketika Salman menjadi Gubernur di Mada’in dan dia makan dengan makanan yang sangat sederhana yang dimasaknya sendiri. “Kaulakukan mi padaku Gubemur? Padahal mengalir kepadamu rezeki.”
Saya belum ceritakan bahwa Mada’in itu adalah daerah yang paling subur. Jadi, ketika tentara-tentara Islam dan padang pasir masuk ke Mada’in, mereka melihat bertumpuk—tumpuk makanan sampai terkagum-kagum. Semua berteriak histeris. Orang padang pasir jarang melihat hijau-hijauan. Mereka jarang menemukan makanan tiba-tiba melihat tumpukan makanan di hadapannya. Mereka berteriak-teriak tapi Salman malah menangis. Ketika orang-orang bertanya kepadanya, “Kenapa kamu menangis?” Salman menjawab “Kamu tidak tahu betapa besar tanggungjawab kita di hadapan Allah Swt nanti. Kita akan dihisab Tuhan nanti” Dan Salman tetap makan dengan sangat sederhana. “Aku senang makan dan hasil tanganku sendiri.”
Ketika Salman berada pada detik-detik akhir kehidupannya, ia menangis. Orang-orang bertanya, “Kenapa engkau menangis?” Salman menjawab, “Rasulullah Saw dulu pernah berwasiat kepadaku, hendaklah bekal orang di dunía ini seperti bekal seseorang ketika berada di perjalanan. Dan ketika Rasulullah meninggal dunia, orang melihat di rumahnya tidak ada apa pun kecuali keperluan sehari-hari yang sangat sederhana sementara aku meninggalkan dunia ini dalam keadaan yang seperti ini.”
Dalam riwayat lain, Rasulullah memberikan keistimewaan kepada Salman bahwa sebelum ia meninggal dunia, ia akan diberi kesempatan untuk berjumpa dengan orang-orang di alam barzakh. Maka menjelang han kematiannya, ia meminta dibungkus dengan kain kafan, dibawa di atas keranda kemudian dibaringkan di kuburannya. Dan ketika ia berbaning di kubunan itu, Salman kemudian memanggil para penghuni kubur, “Rasulullah pernah berwasiat kepadaku bahwa ada di antara kalian yang akan berkata
kepadaku pada saat-saat aku akan meninggalkan dunia mi.” Dan datanglah penghuni kubur. Terjadi dialog antara Salman dengan penghuni kubur. Kanena niwayatnya panjang, tidak saya bacakan di sini. Dan katanya ada semacam takhayul di kalangan para ulama, kalau riwayat itu dibacakan di hadapan umum, itu yang membaca riwayat itu tidak lama sesudah membacanya akan meninggal dunia.
kepadaku pada saat-saat aku akan meninggalkan dunia mi.” Dan datanglah penghuni kubur. Terjadi dialog antara Salman dengan penghuni kubur. Kanena niwayatnya panjang, tidak saya bacakan di sini. Dan katanya ada semacam takhayul di kalangan para ulama, kalau riwayat itu dibacakan di hadapan umum, itu yang membaca riwayat itu tidak lama sesudah membacanya akan meninggal dunia.
Salman menurut para Sahabat
Salman sangat dicintai Rasulullah Saw dan juga sangat dicintai oleh Ahlul Bait Nabi. Begitu dicintainya seperti kita ketahui sampai ia dimasukkan dalam kelompok Ahiul Bait juga. “Salman termasuk kami di kalangan Ahiul Bait.” Bebenapa riwayat tentang Salman dan para sahabat (dan Kitab Madrasah Rasul a!- A’zham Saw):
Ketika Salman datang dan Mada’in menemui Umar, Umar berkata kepada orang banyak, “Marilah kita keluar semua untuk menyambut kedatangan Salman.”
Dan ‘Aisyah, “Salman itu punya waktu khusus untuk berternu dengan Rasulullah sepanjang malam sampaj mengalahkan kami istri-istrinya di hadapan Rasululjah Saw.”
Dan Abu Hurairah, “Salman itu adalah orang yang menguasa, dua kitab.”
Dan Qotabah, “ía menguasa, Injil dan Qur’an.”
Rasulujlah menyebut Salman sebagaj orang yang memiliki ilmu Al-Awwalin wa al-âkhirin, ilmu orang terdahulu dan orang kemudian.
Kata Ka’abAl-Aithbar “Salman dipenuhi dengan ilmu dan hikmah.”
Sekarang saya sampaikan riwayat-rjwayat dan Ahlul Bayt. Dan lmam All as, “Salman Al-Farisi seumpama Lukrnan Al Hakim pada umat terdahulu”
Kata lmam Al-Baqir as, “Janganjah kamu menyebut Salman Al-Farisi, tapi sebutkanlah Salman Al-Muhammadi karena dia adalah lelaki di antara kami (dan kalangan Ahiul Bait). Salman termasuk orang yang diberi tanda, yang menyimpan tanda-tanda kesucian dirinya.”
Seorang sahabat bertanya kepada Imam Ja’far: “Aku bertanya kepada Abu Abdillah Imam Ja’far AsShodiq as, betapa sering aku mendengar dan engkau duhat Sayyidku, junjunganku engkau seringkali menyebut nama Salman Al-Farisi” Imam menjawab, “Jangan sebut Salman al-Farisi, sebut saja Al-Muhammad, ‘Tahukah kamu, kenapa aku seringkal, menyebut Salman?’ “Tidak.” “Aku menyebutnya karena tiga hal. Pertama, ia mendahulukan kehendak Amjrul Mukminin ketimbang kehendaknya sendiri.”
Itu ciri kesetiaan, dia dahulukan keinginan pemimpinnya di atas keinginannya sendiri. Dia korbankan keinginannya demi keinginan Pemimpinnya
Sayang sekali di Indonesia tidak ada latihan kepengikutan, yang ada hanya latihan
kepemimpinan Akibatnya seperti yang saya alami. Katanya orang menganggap sebagai pemimpin, tapi yang mau mengangkat saya sebagai pemimpin semua ikut latihan kepemimpinan Jadi setelah mereka menjadikan saya pemimpin, mereka tidak mau mentaatinya Kita tidak terbiasa menjadi pengikut. Ciri-ciri pengikut yang setia, yang betul-betul agamanya itu An-nashiha (kesetiaan) adalah kesediaannya mengorbankan keinginannya untuk keinginan pemimpinnya.
Di Malaysia ada gerakan Taslim – gerak kepasrahan. Walaupun gerakan Taslim itu keliru, dan sekarang sudah dilarang, kepasrahan kepada imamnya luar biasa. Begitu luar biasanya sampal kalau ada yang menikah maka malam pertama-nya itu diserahkan kepada Imamnya. Itu jelas keliru. Kalaupun itu keliru, ada nilai yang baik di situ yaitu kepasnahannya.
Ketika seorang pemuda datang kepada Rasulullah Saw dan berkata, “Ya Rasulullah aku mencintaimu” Lalu Rasulullah berkata, “Kamu mencintai aku?” “Ya” “Bunuh Bapakmu.” Pemuda itu pergi betul-betul siap membunuh bapaknya. Ia dipanggjl lagi. Kata Rasulullah “Tidak, aku tidak menyuruh agar kamu membunuh bapakmu, aku hanya ingin menguji kecintaanmu padaku. Dan sesungguhnya aku dibangkitkan untuk men yempurnakan akhlak.” Rasulullah menguji benar tidak, cinta yang setia, cinta yang tulus itu. Kalau cintanya tulus ia akan korbankan kehendaknya. Ia tentu mencintai bapaknya, dan Rasulullah menyuruh membunuhnya. Ia berangkat hendak membunuh –walaupun tidak jadi—tapi itu semacam ujian saja.
Kita di Indonesia punya banyak riwayat pengkhianatan. Dulu ada seorang yang sangat pemberani di zaman orde baru namanya Abdul Qadin Zaelani_-kalau saya tidak salah, dia pernah jadi tokoh Bulan Bintang sebentar, sebelum Bulan Bintang jatuh dalam Pemilihan Umum, ia sering dakwah di Tanjung Priok. Pemuda-pemuda yang mengagumi kebenanianya datang. “Ustadz, kita akan berdiri mernbela Ustadz” Ketika pulang—kata Abdul Qadir Zaelani pulang digiring oleh pemuda-pemuda yang pemberani-pemberani itu. Baru muncul tentara, seluruh pemuda itu berlarian dan Abdul Qadin Zaelani sendirian dipukuli oleh tentana waktu itu. Para pencinta yang menyebalkan itu pada berlarian.
Lanjutan hadis Imam Ja’far As-Shadiq, “Aku mencintai Salman karena tiga hal yang ada dalam dirinya. Satu kesetiaannya sebagai pengikut karena dia mendahulukan keinginan Amirul Mukmini di atas keinginannya sendiri. Kedua, karena kecintaannya kepada fakir miskin dan karena ia memilih untuk bergabung dengan orang yang fakir miskin ketimbang untuk bergabung dengan orang-orang yang kaya raya. Ketiga, karena kecintaannya kepada ilmu dan karena kecintaannya kepada ulama. Salman adalah seorang hamba yang saleh yang kecenderungannya untuk pasrah kepada kebenaran dan ia tidak termasuk kepada orang-orang yang musyrik”
Tiga jalan hidup Salman
Kalau saudara-saudara menjalankan apa yang dijalankan oleh Salman, maka saudara pun akan berusia panjang Sekarang ada beberapa bukti ilmiah bahwa orang yang bergaul dengan fakir miskin hidupnya lebih bahagia ketimbang hidup dengan orang yang lebih kaya dan dia. Kemarin saya kedatangan dua orang dokter dari Palembang. Mereka masih mahasiswa, dua dokter ini pintar-pintar sebagai mahasiswa. Ada kawannya yang lain yang lulusnya pas-pasan. Setelah lulus, mahasiswa itu yang didongkrak-dongkrak nilainya itu semua kaya raya dan ganti-ganti mobil dan dokter yang dua itu tetap sederhana Waktu itu saya lagi mengeluh karena mobil Taruna saya kuplingnya keras sekali dan saya mengeluhkannya. Lalu salah satu dokter itu menjawab bahwa satu-satunya mobil yang dia miliki adalan mobil ambulans. Dia sering datang ke tempat kerjanya itu pakai angkot dan kalau susternya tanya, “Kok, Dokter pakai angkot?” ia menjawab, “Saya lagi dilarang menyetir sendiri.” Saya bahagia betul dibandingkan dengan mereka. Mereka ini dokter tapi tidak punya kendaraan sedangkan saya punya.
Jadi beruntunglah saya karena saya bergaul dengan dokter-dokter yang tidak kaya. Coba kalau saya bergabung dengan dokter-dokter kaya, menderita saya.
Yang kedua yang membuat orang panjang umur adalah kecintaan kepada ilmu. Bila mencintai ilmu, maka otak kita akan aktif terus menerus Bila otak dipakai terus-menerus dia akan berfungsi dengan sangat lancar. Karena itu, tubuhnya akan menjadi lebih sehat. Kalau Anda suka mempelajari ilmu, anda juga akan memiliki tubuh yang lebih sehat. Sebagaimana, percobaan Rosenzwejg dan tikus-tikus. Ternyata tikus yang suka belajar, usianya lebih lama dan tikus-tikus yang tidak suka belajar. Tikus yang tidak pernah belajar, usianya sama tapi tubuhnya cepat sekali menjadi tua. Salman berusia lama karena dia mempelajari ilmu terus-menerus. Karena kecintaannya kepada ilmu dan para ulama.
Saya ingin akhiri ini dengan satu kisah lagi. Salman itu bukan orang Arab, dia orang Persia yang pernah menjadi budak belian. Dia mencapai kedudukan yang sangat tinggi sampai dihitung oleh Rasulullah menjadi bagian dan Ahul Bait, untuk menunjukkan bahwa di dalam Islam, keturunan bukanlah ukuran kemuliaan. Ukuran kemuliaan adalah akhlak dan ilmu.
Ada satu peristiwa ketika Salman mengajar kepada para sahabatnya untuk meninggalkan kebanggaan terhadap keturunan. Diriwayatkan dan Abu Ja’far Muhammad bin Ali Al-Baqir as: suatu saat, sekelompok sahabat. Rasulullah lagi berbangga-bangga dengan keturunan mereka. Di tanah Arab, ada kebanggaan menyebutkan silsilah keturunan. Kebiasaan yang berlanjut sampai sekarang. Mereka menyebutnya nasab mereka dan menyebutkan kebanggaan nasab mereka itu. Di antara para sahabat itu ada Salman Al-Farisi yang tidak jelas asal-usulnya. Umar bertanya kepada Salman, “Hei Salman, apa nasab kamu? Apa asal-usulmu?” Lalu Salman berkata, “Aku Salman anak hamba Allah, dahulu aku sesat lalu Allah tunjuki aku dengan Muhammad Saw. Dahulu aku miskin lalu Allah kayakan aku karena Muhammad Saw. Dahulu aku budak, lalu Allah membebaskan aku karena Muhammad Saw ini nasabku dan ini nasabku wahai Umar.
Kemudian datanglah Rasulullah Saw. Disampaikan di depan Rasulullah tentang
Salman apa yang diucapkan Umar dan apa jawaban Salman kepadanya. Jadi dilaporkanlah percakapan itu kepada Rasulullah. Lalu Rasulullah bersabda “Hei orang-orang Quraisy sesungguhnya kemuliaan seseorang itu adalah agamanya. Nasab yang sebenarnya dalam Islam adalah agamanya dan kemuliaan seorang manusia adalah akhlaknya dan asal-usulnya man usia adalah akalnya. Karena Allah Swt berfirman, ‘Wahai manusia kami jadikan kalian laki-laki dan perempuan, kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan berkabilah-kabilah supaya kalian saling mengenal karena sesungguhnya yang mulia di hadapan Allah adalah yang paling takwa”
Kemudian datanglah Rasulullah menemui Salman, “Hei Salman mereka itu tidak lebih utama dan kamu sedikitpun kecuali karena ketakwaan kepada Allah. Kalau kamu lebih takwa kepada Allah, kamu lebih mulia dan mereka walaupun asal-usul kamu tidak jelas, walaupun ketununan kamu tidak jelas.”
Sayangnya belakangan saya takjub bahwa ajaran Islam yang begitu besar, karena perkembangan zaman berangsur-angsur menghilang dan orang mulai lagi membanggakan keturunannya. Saya tidak tahu sejak kapan ajaran agama Islam mi melenceng begitu jauh dan ajanan yang dibawa Rasulullah Saw. (Tamat)
ConversionConversion EmoticonEmoticon